Dewasa Itu Pilihan

Januari 10, 2009 at 12:04 pm Tinggalkan komentar

Ini memang saya baca dari pamflet iklan yang tersebar dimana-mana. Lengkapnya bunyi pamflet itu adalah; Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan. Tentu yang dimaksud oleh si pembuat iklan adalah memilih produknya itu adalah pilihan mereka yang berpikir dewasa.
Bagi kita, soal dewasa atau tidak itu penting. Sangat penting, malah. Sebal rasanya kalau kita dicap ‘belum dewasa’ oleh orang lain. Jangan begini, jangan begitu, kamu belum dewasa. Dunia pun serasa runtuh. Ingin rasanya kita teriak pada orang-orang kalau kita sudah dewasa. “Hey, aku sudah berumur enam belas tahun, aku sudah kelas dua SMU, aku sudah dewasa!” mungkin begitu isi teriakan kita.
Sayangnya saya harus berterus terang pada kamu, para remaja, banyak di antara kita – termasuk orang tua – yang salah mengartikan kata ‘dewasa’. Kalau kamu beranggapan dewasa itu sama dengan bertambahnya umur, berarti jawabanmu benar dan salah. Benar, karena secara biologis kamu sudah dewasa. Kamu, para cowok, sudah mimpi basah, badanmu sudah memproduksi sel sperma, jakunmu mulai tumbuh, dan dagumu sudah berjenggot. Kamu, para cewek, kamu sudah datang bulan, tubuhmu sudah memproduksi sel telur, dan kamu sudah siap menjadi seorang wanita.
Tapi jawabanmu salah karena dewasa juga diukur dari caramu berpikir dan caramu bersikap. Inilah kedewasaan yang harus kita miliki. Percaya atau tidak, tidak semua orang dewasa juga mampu berpikir dewasa.
Sekarang, seberapa sering kamu melalaikan sholat lima waktu? Berapa kali kamu sengaja membocorkan puasa Ramadlan? Bisakah kamu bersabar ketika orang tua memarahimu saat kamu salah? Pernahkah kamu mengaku salah dan minta maaf pada orang lain atas kesalahanmu? Pernahkah kamu menepati janji dengan orang lain, seperti datang tepat waktu? Itu sebagian dari ‘ujian’ kedewasaan.
Jadi, jangan dulu mengaku dewasa kalau kita nggak sholat shubuh tapi masih bisa cengar-cengir. Atau nggak malu pada orang lain walaupun sering ingkar janji, atau tidak pernah minta maaf walau sudah jelas-jelas kita berbuat salah. Menjadi dewasa meminta kita untuk menjadi orang yang siap dengan segala tanggung jawab, baik sesama manusia atau dari Allah SWT. Kalau kita sering menghindar dari tanggung jawab, ngeles, itu artinya kita belum dewasa. Itu adalah tipikal anak-anak. Ketika seorang anak merebut mainan dari temannya sehingga menangis, ia akan lari pulang ke rumahnya. Bersembunyi di belakang punggung ibu atau bapaknya. Atau ketika mereka ramai-ramai mencuri mangga dan tertangkap basah, anak-anak biasanya saling melempar kesalahan. Apakah kita masih begitu, melempar tanggung jawab pada orang lain?
Maka ‘dewasa’ itu bukan hanya milik orang dewasa. Ali bin Abi Thalib ra. sudah dewasa ketika masih kanak-kanak. Sayyidina Ali termasuk assabiqunal awwalun, golongan pertama yang memeluk Islam. Saat Rasulullah saw. mengajaknya beriman, masuk ke dalam Islam, ia sempat meminta izin pada orang tuanya, tapi ia membatalkan niatnya itu sambil berkata, “Allah saja tidak pernah meminta izin pada orang tuaku untuk melahirkanku ke alam dunia.” Ia pun masuk Islam tanpa meminta izin pada orang tuanya.
Saat Rasulullah saw. dan Abu Bakar Ash Shiddiq akan hijrah ke Yatsrib, beliau meminta Ali untuk tidur di ranjangnya, sebagai tipuan untuk orang-orang Quraisy yang telah mengepung rumah Rasulullah saw. Para pemuda musyrik Quraisy yang mengintip rumah Rasulullah saw. pun menyangka Rasulullah saw. masih terlelap di kasurnya. Tapi ketika mereka mendobrak masuk mereka hanya mendapati Ali. Tapi Ali tidak gentar. Ia menatap mata mereka dan berdebat dengan mereka.
Usamah bin Zaid ra. adalah remaja berumur 18 tahun yang memimpin peperangan melawan negara adidaya Romawi. Para prajurit yang dipimpinnya adalah veteran perang Badar yang jauh lebih tua, dan sebagian sudah bersama Rasulullah saw. selama bertahun-tahun. Tapi Rasulullah saw. mempercayakan pasukannya dipimpin Usamah.
Bahwa semua orang umurnya akan bertambah dan menjadi tua, itu memang sunnatullah, pasti. Tapi tidak semua orang siap dan mampu menjadi dewasa. Maka tidak usah menunggu umurmu bertambah untuk menjadi dewasa. Jadilah orang yang berpikir dewasa sekarang. Berpikirlah dewasa sejak saat ini. Caranya? Belajarlah menjadi orang dewasa; kenali dan pelajari arti tanggung jawab, meminta maaf, berkorban untuk orang lain, menghormati orang lain, berjuang untuk agama, patuh pada orang tua, amanah, jujur, cinta dan kasih, dsb.
Bila kamu menghayati Islam, memahaminya dan menjadikannya sebagai panduan dan cahaya hidupmu, maka kamu akan tumbuh sebagai orang ‘dewasa’. Karena agama kita adalah tuntunan yang akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.

  

Gagal Itu Indah

Kegagalan adalah sesuatu yang bisa kita hindari dengan; tidak
mengatakan apa-apa, tidak melakukan apa-apa dan tidak menjadi
apa-apa. (Denis Waitley)

Tidak usah berteriak “Hah?!” membaca judul tulisan ini, atau berpikiran kalau saya hanya berusaha menghibur. Tidak begitu. Saya juga tidak meminta kamu untuk menghilangkan kesedihan atau menangis ketika kamu mengalami kegagalan. Tidak diterima di sekolah favorit, atau universitas, ulanganmu ‘kebakaran’, dan seabrek-abrek kegagalan lainnya adalah bagian dari kegagalan yang bisa hinggap dalam kehidupan kita. Perasaan sedih dan menangis, itu adalah fitrah manusia. Allah karuniakan itu kepada kita sebagai sebuah cara untuk melepaskan beban hidup. Tidak apa-apa kita menangis.
Perasaan ‘sakit’ dan sedih ketika gagal juga menjadi sebuah tanda bahwa kita adalah remaja yang normal, yang menginginkan keberhasilan dan kebahagiaan. Ketika itu tidak tercapai kita pun terluka, sedih dan menangis. Berarti kita masih ingin mencapai keinginan tersebut. Bukankah itu bagus?
Ya, jangan melepas segala usaha dan impian mereka ketika kita gagal. Bayangkan, kalau setiap orang yang gagal begitu saja melepas cita-cita mereka, pastinya tidak ada kemajuan di dunia ini. Thomas Alva Edison puluhan kali gagal membuat lampu pijar, tapi ia tidak putus asa. Jurnalis senior Rosihan Anwar, budayawan Emha Ainun Najib sudah kenyang dengan penolakan atas tulisan mereka. Buku laris Chicken Soup for The Soul karya … ditolak oleh banyak penerbit sebelum akhirnya diterbitkan oleh … dan laris manis. Bahkan Rasulullah saw. saja berdakwah selama 13 tahun di Mekkah dan hanya punya 70 pengikut. Bahkan di Thaif beliau mengalami pengusiran dan pelemparan batu.
Ketika SMU saya memiliki seorang kawan, kakak kelas yang tidak naik dan akhirnya satu kelas dengan saya. Ia menjadi minder dan nyaris hilang kepercayaan dirinya. Waktu itu saya hanya bisa bilang, “Jangan putus asa, yang penting usaha, belajar saja apa yang kita bisa, Allah membalas usaha kita, bukan hasilnya.” Alhamdulillah, kami lulus bersama-sama. Terakhir saya dengar ia sudah bekerja di satu institusi pemerintah.
So, jangan lepas cita-cita dan keinginanmu. Kegagalan itu indah. Kegagalan itu adalah tantangan yang harus ditaklukkan, bukan sekedar ditangisi. Tanpa kegagalan dan kesalahan, kita tidak tahu bagaimana caranya menjadi orang benar dan berhasil. Masih tidak percaya? Mari kita lihat; misalkan kamu gagal mendapatkan nilai memuaskan waktu ulangan fisika dan harus mengikuti remedial atau her, maka inilah langkah yang seharusnya kamu lakukan;

 Kamu akan mempelajari lagi soal ulangannya,
 Kamu akan melengkapi lagi catatanmu untuk bahan remedial
 Kamu akan minta bantuan pada temanmu yang jago fisika untuk membantumu berlatih.
 Kamu akan berlatih soal-soal lebih banyak lagi.
 Kamu akan belajar lebih serius lagi.

Coba terapkan hal serupa pada kegagalan yang lain.
Betulkan kegagalan itu indah? Banyak yang bisa kita lakukan setelah kegagalan. Mata kita jadi terbuka akan berbagai hal. Kita menjadi lebih sungguh-sungguh. Kita menjadi tidak mudah lengah, dan kita semakin bisa menghargai sebuah keberhasilan.
Kamu drop out dari sekolah, tidak diterima di PTN favorit?
Hey, jalan menuju ke Roma itu banyak. Keberhasilan hidup dan kebahagiaannya bukanlah milik mereka yang menjadi juara kelas, juga bukan milik mereka yang bisa kuliah di universitas mentereng atau yang bisa menghasilkan uang banyak. Banyak orang yang tidak bisa meneruskan sekolah, tidak bisa kuliah, gagal melamar pekerjaan, tapi menemukan kesuksesan di bidang lain dan berbahagia. Bill Gates boss Microsoft drop out dari bangku kuliah, Albert Einstein penemu teori relativitas ketika sekolah dianggap ‘bukan murid yang pandai’, dan masih banyak orang berhasil lainnya yang berawal dari gagal. Bahkan konon kue brownies yang yummi adalah kue yang gagal dibuat oleh seorang koki. Banyak kesempatan dan cita-cita yang bisa kamu wujudkan di dunia ini.
Sabarlah menghadapi berbagai kegagalan, keberhasilan tidak datang tiba-tiba. Kolonel Sanders memulai usahanya ketika dia berumur 60 tahun, dan mulai meraih sukses yang menyeluruh dalam usaha KFC.
Tentu saja, bahagia bukan sekedar impianmu berhasil, tapi ketika Allah meridloimu, ketika kamu melaksanakan sesuatu sesuai dengan cara yang halal disanalah letak kebahagiaan. Bagi kita, mendapatkan ridlo Allah adalah kesuksesan yang sesungguhnya, di dunia dan di akhirat.

“Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari neraka.”

Entry filed under: Artikel. Tags: .

Hello world! Mimba (Azadiractha Indica)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Facebook

Calender

Januari 2009
S S R K J S M
    Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Clicks

  • Tak ada

Guest

Feeds


%d blogger menyukai ini: