Plus Minus Kerokan

Maret 8, 2009 at 12:52 am 17 komentar

0012343pBANYAK orang selalu minta kerok ketika badan merasa nyeri atau pegal karena masuk angin. Bermodalkan sekeping uang logam plus balsem, gejala masuk angin umumnya langsung ngacir. Semakin banyak gurat-gurat merah gelap memenuhi punggung, kian marem sang pasien.

Kerokan memang, cara paling tua mengatasi gejala masuk angin. Uniknya, cara sederhana ini tak hanya populer di Indonesia, melainkan juga di negara-negara Asia lainnya. Orang Vietnam menyebut kerokan sebagai cao giodi. Adapun warga Kamboja menjulukinya goh kyol. Di China yang terkenal dengan akupunturnya, metode kerokan juga cukup populer dengan sebutan gua sua. Bedanya, orang China memakai batu giok sebagai alat pengerok, bukan kepingan uang logam.

Konon, warna merah yang timbul pada kulit setelah kerokan adalah pertanda badan telah kemasukan angin secara berlebihan. Makin pekat warnanya, pertanda banyak pula angin yang berdiam di tubub. Benarkah?

Tentu tidak. Warna merah pertanda pembuluh darah halus (kapiler) di bawah permukaan kulit pecah sehingga terlihat sebagai jejak merah di tempat yang dikerok. Badan orang sehat pun akan memerah jika dikerok.

Karena itu, banyak kalangan tak meyakini kemujaraban pengobatan kerok. “Di negaranegara barat, kerokan sama sekali tak dikenal,” ajar Saptawati Bardosono, dokter dari Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.
Namun, secara medis, kerokan adalah salah satu metode memperlebar pembuluh darah tepi yang menutup (vasokontiksi) menjadi menjadi semakin melebar (vasaditilasi). “Ini tak berbahaya asal tak jadi kebutuhan primer,” ujar Mulyadi, dokter dari Klinik Medizone. Jika terus-terusan kerokan, akibatnya banyak pembuluh darah kecil dan halus yang akan pecah.

Namun, dalam taraf normal, kerokan akan membuat penderita masuk angin merasa nyaman karena telah melepas hormon beta endofin. “Secara ilmiah, praktek sederhana ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga),” tandas Mulyadi.

Bukan hanya itu, prinsip kerokan tak beda jauh dengan akupuntur yang menancapkan jarum dalam tubuh. Maksud Mulyadi, prinsip kerokan adalah meningkatkan temperatur dan energi pada tubuh yang dikerok. Peningkatan energi ini dilakukan melalui perangsang kulit tubuh bagian luar.

Dengan cara ini, saraf penerima rangsang di otak akan menyampaikan rangsangan yang menimbulkan efek memperbaiki organ pada titik-titik meridian tubuh. Nah, pada gilirannya, arus darah di tubuh yang lancar akan menyebabkan pertahanan tubuh juga meningkat.

Entry filed under: Kesehatan. Tags: .

Waspadai Nyeri Saat Menstruasi Jangan Takut Berjilbab

17 Komentar Add your own

  • 1. riera  |  Maret 9, 2009 pukul 1:19 pm

    oh gitu ya . aku baru tau kenapa kalo kerokan selalu merah ya .
    oc thank yow

  • 2. jiwamerapuh  |  Maret 9, 2009 pukul 2:40 pm

    oooh… baru tau ane….

  • 3. ierone  |  Maret 9, 2009 pukul 3:51 pm

    wah, ku jarang kerokan niy.
    kalo masuk angin juga gak mau kerokan saya.

    ogah!!

  • 4. padompa  |  Maret 9, 2009 pukul 8:57 pm

    ajarin cara masukin kategori and post2 artikelnya dong mbak.thanks before^^

  • 5. nurrahman18  |  Maret 10, 2009 pukul 12:16 am

    klo saya dah kecanduan kerokan,he2

  • 6. lili  |  Maret 10, 2009 pukul 12:50 am

    ooh gitu..
    tp knapa klo pas lg masuk angin makin merah yah kulit yg dikerok dibanding pas normal?

  • 7. adit38  |  Maret 10, 2009 pukul 10:09 am

    ^
    Mungkin saat masuk angin, urat yg posisinya berubah banyak. Jadi makin banyak yg pecah.

    Duh serem jg dengarnya, dah kecanduan kerokan nih

  • 8. Korban Lumpur  |  Maret 10, 2009 pukul 12:19 pm

    Paling asik ngerokin istri tetangga, itu tu tante dewi…Waduh suka ga ku..Ku.. Lumayan cuci mata plus duit gocengan atu ama imron tegang kejang hehehe

  • 9. omiyan  |  Maret 10, 2009 pukul 2:27 pm

    TAPI SAYA SENDIRI MERASAKAN BIASANYA HABIS KEROKAN TERUS DIPIJAT RASANYA BADAN JADI LEBIH ENTENG….INFORMASI BAGUS MAKASIH

  • 10. irfanantono  |  Maret 10, 2009 pukul 3:48 pm

    thanks infonya.. kalau pake koyo gimana ?

  • 11. kweklina  |  Maret 10, 2009 pukul 4:39 pm

    sejak aku ke Taiwan…aku sering ngerokin, mertua perempuan dan suami…karena seblumnya mereka memang tak kenak kerokan..

    ha…begitu ya rupanya…

    thanks buat infonya🙂

  • 12. riyansleman  |  Maret 10, 2009 pukul 5:14 pm

    Asli orang jawa, jadi sudah kecanduan deh… hehehe

  • 13. Billy Koesoemadinata  |  Maret 11, 2009 pukul 1:52 pm

    yang saya tau, kalo dikerok itu bisa ngurakin pegel2 di badan..😛

  • 14. sofwan {kalipaksi}  |  Maret 11, 2009 pukul 7:44 pm

    terima kasih infonya…sangat bermanfaat

    Salam kenal

    http://www.kalipaksi.wordpress.com

  • 15. pinginsehat  |  Juli 14, 2010 pukul 5:48 pm

    sekarang gw jauhin deh yg namanya kerokan.. mending dipijat aja

  • 16. Masuk Angin, Kerokan Bahaya kah ? « Achmad Zq Royhan  |  Agustus 27, 2010 pukul 5:23 pm

    […] Sumber :�https://meemhy.wordpress.com/2009/03/08/plus-minus-kerokan/ […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Facebook

Calender

Maret 2009
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada

Guest

Feeds


%d blogger menyukai ini: