Instan & Kompas

Maret 11, 2009 at 5:00 pm Tinggalkan komentar

Tidak ada remaja yang tidak ingin sukses dalam kehidupan. Siapa sih yang tidak ingin menjadi juara kelas, bisa membuat karya ilmiah yang baik, masuk ke perguruan tinggi favorit, atau hafal Al Qur’an? Atau ketika kita lulus, siapa yang tidak ingin punya penghasilan yang baik, punya mobil bagus barangkali, atau rumah yang nyaman untuk orang tua dan adik-adik kita.
Semua orang ingin berhasil dalam kehidupan dunia. Tapi tidak semua orang paham kalau keberhasilan itu tidak datang tiba-tiba, dan harus diraih dengan cara yang halal. Lebih banyak orang yang terpesona dengan kemilau keberhasilan orang lain, lantas menjadi iri dan berpikir kalau itu semua datang dari langit. Kita sering berpikir kalau meraih kesuksesan itu sama dengan membuat mie instant. Buka bungkusnya, masak dalam air mendidih – bahkan bisa disiram dengan air panas –, tunggu 3 menit, dan langsung dinikmati.
Hey, lihatlah pekerjaan seorang tukang batu. Ia mungkin membutuhkan lima kali pukulan, sepuluh atau malah lima belas kali pukulan untuk membelah sebuah batu. Semakin besar dan kokoh batunya, semakin keras enerji yang harus dikerahkan. Nah, gedung bertingkat yang menjulang ke angkasa dan rumah-rumah yang mewah dibangun dari sejumlah usaha keras para buruh bangunan dan tukang batu. Baju yang kita pakai juga lahir dari sejumlah usaha; pertanian kapas, pemintalan benang, sampai ke usaha konveksi pakaian. Sadarkah kita akan hal itu?
Tidak ada keberhasilan dalam bungkus mie instant. “Roma tidak dibangun dalam satu malam,” kata Julius Cesar. Teman kita yang menjadi juara kelas, para penghafal Al Qur’an, juara lomba karya tulis ilmiah lahir dari sebuah kerja keras. Tanyalah pada para penulis yang sudah punya nama seperti Hilman, Gola Gong, Helvy Tiana Rosa, Muhammad Faudzil Adhim, seberapa keras usaha mereka untuk bisa membuat sebuah tulisan yang bermutu.
Bahkan seorang utusan Allah seperti Rasulullah saw. saja membutuhkan waktu 13 tahun untuk membangun masyarakat Islam. Dengan cucuran keringat, pengorbanan waktu, bahkan penganiayaan di sejumlah tempat seperti di Thaif, berdirilah negara Islam yang pertama di dunia. Di Madinah pun kerja keras itu tidak berhenti. Tercatat Rasulullah saw. memimpin peperangan selama 28 kali. Hasilnya, umat Muslim pun menjadi umat yang lekat dengan kerja keras. Sepeninggal beliau, kita menguasai lebih dari sepertiga dunia selama hampir 13 abad. Firman Allah Ta’ala:

“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”(At Taubah [9]:105).

Keberhasilan bukanlah bakat. Tidak ada orang yang berhasil sekedar mengandalkan bakat. Tidak ada orang di dunia yang bilang pada Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Muslim, ‘Hey kalian pantas berhasil karena kalian orang yang berbakat ‘. Seandainya Imam Bukhari hanya duduk-duduk di desanya, Bukhara, Uzbekistan, tentu ia tidak akan menjadi seorang penghafal ribuan hadits dan bergelar ‘amirul mukminin’ hadits. Tapi Imam Bukhari memilih hijrah dari Bukhara ke Jazirah Arab, berkeliling ke banyak tempat untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Sering beliau pergi sejauh ribuan mil hanya untuk mengecek kebenaran satu hadits saja.
Kawanmu yang menjadi hafidzul Qur’an tidak akan pernah hafal 30 juz kalau hanya sekedar tidur-tiduran di rumah. Tapi ia harus melatih dan menjaga hafalannya setiap hari, dan mengkhatamkan Al Qur’an dalam beberapa hari.
Imam Syafi’i sejak masa remajanya adalah seorang yang cinta belajar. Ia rajin mendatangi para alim ulama untuk berguru kepada mereka. Karena bukan orang yang kaya, ulama yang punya nama asli Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i tidak malu mengais-ngais tong sampah untuk mencari lembaran kertas yang masih bisa dipakai untuk menulis. Kamar tidurnya penuh dengan berbagai catatan pelajaran. Tidak aneh kalau pada usia 9 tahun ia sudah hafal Al Qur’an. Ketika mendatangi Imam Malik untuk belajar kitab Al Muwaththa’ ia sudah menghafalnya terlebih dahulu. Padahal waktu itu umurnya baru 10 tahun. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Imam Malik yang mengizinkan Syafi’i muda untuk mengajar dan memberi fatwa kepada masyarakat di umurnya yang ke-15.
Mungkin kamu bilang, ah mereka kan orang-orang yang jenius.
Hey, jenius bukanlah takdir, tapi kerja keras. Dan itu sudah dibuktikan banyak orang di dunia ini. Thomas Alva Edison membocorkan rumus jenius. Katanya, jenius itu adalah 1 persen inspirasi, dan 99 persen kerja keras. Dan itu adalah benar. Lihatlah dunia olah raga, setiap saat ada saja rekor-rekor baru yang dibuat memecahkan rekor lama. Semakin keras usaha seseorang semakin tinggi peluang mereka untuk berhasil.
Jadi kalau kamu ingin menjadi seorang yang sukses, salah satu sifat yang harus kamu miliki adalah kerja keras. Menjadi apapun, kerja keras adalah tumpuannya. Tanpa kerja keras, cita-cita kita sama dengan khayalan.

  

Potong Kompas

Istilah ini sama dengan ‘jalan pintas’. Kalau orang ingin pergi ke suatu tempat, dan ingin sampai lebih cepat ke sana, atau ingin mendahului orang lain, maka biasanya mereka melakukan ‘potong kompas’ atau mencari ‘jalan pintas’. Biasanya, jalur yang diambil itu tidak lazim, jalannya seringkali jelek, tapi memang lebih cepat.
Mengambil ‘jalan pintas’ seringkali dilakukan orang dalam kehidupan. Banyak orang yang senang mengambil ‘jalan pintas’, memakai jalur yang tidak lazim, bahkan jelas haram, untuk meraih kesuksesan mereka. Tapi mereka tidak peduli, karena ‘jalur ilegal’ atau ‘tidak sah’ ini sepertinya menjanjikan kesuksesan dalam waktu singkat. Sengaja saya ketik miring karena kenyataannya tidak demikian.
Istilah lain yang lebih tepat untuk menyebut ‘jalan pintas’ adalah ‘menghalalkan segala cara’. Sebabnya sangat jelas. Orang-orang yang mengambil jalan pintas tidak lagi memandang apakah perbuatan yang mereka lakukan itu halal atau haram. Kalaupun haram maka mereka anggap itu adalah halal.
Untuk para pelajar yang ingin ulangannya bagus, tanpa perlu belajar keras, maka mencontek, atau mencari bocoran soal adalah jalan pintas buat mereka. Makanya tiap tahun ada saja ribut-ribut mengenai soal EBTANAS yang bocor, peserta UMPTN yang memakai jockey, malah ada cerita kawan saya tentang pelajar yang percaya pada klenik untuk menjawab soal ujian.
Prinsip jalan pintas sudah merebak dimana-mana. Di dunia kerja prinsip ini juga ada. Mereka yang ingin diterima bekerja di satu tempat seringkali diminta membayar sejumlah uang sebagai jaminan diterima. Tidak sedikit yang remaja yang mau melakukan ‘apa saja’ asalkan bisa cepat tenar, entah jadi fotomodel, bintang iklan atau pemain sinetron, dsb. Yang dimaksud dengan ‘apa saja’ itu adalah perbuatan yang negatif alias haram. Maka tidak sedikit remaja putri yang mau difoto tidak senonoh, atau main film ‘panas’ dengan dalih ‘tuntutan skenario’. Pelakunya berpikir itu adalah sebuah keharusan untuk meraih kesuksesan. Padahal mereka sedang mengambil ‘jalan pintas’. Tidak peduli apakah perbuatan mereka itu memalukan dan dicela banyak orang.
Lalu bahagiakah mereka ketika mendapatkan kesuksesan lewat jalan pintas? Sama sekali tidak. Pelajar yang meraih nilai seratus waktu ulangan dari jalan mencontek, tidak akan pernah lupa dengan cara memalukan yang ia lakukan. Ia juga takut kalau-kalau orang lain tahu apa yang ia kerjakan. Ia akan malu dan marah kalau suatu hari di jalan orang-orang berkata padanya, “Pencontek!”.
Para penggemar ‘potong kompas’ sebenarnya adalah para pecundang. Mereka sedang menggerogoti kepercayaan diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang takut gagal dan takut menghadapi kenyataan. Pelajar mencontek karena takut tidak lulus, para atlit memakai doping dalam pertandingan karena mereka takut kalah, dsb. Akhirnya mereka akan menjadi orang yang selalu tidak pede dan lebih mengandalkan orang lain.
Maka, bersabarlah ketika kamu sedang mengerjakan sesuatu. Tembok Raksasa di Cina tidak dibangun dalam waktu singkat. “Roma tidak dibangun dalam semalam,” kata Julius Cesar, kaisar Romawi. Seorang Ronaldo tidak menjadi pesepakbola yang hebat dari berlatih setahun. Para pemenang sejati adalah mereka yang tidak mengenal jalan pintas. Keberhasilan mereka dibangun di atas cucuran keringat mereka.
Jangan iri pada keberhasilan orang lain – yang mungkin mereka dapat dalam waktu singkat –, tapi jadikan ibrah, contoh, bagi usaha kita. Lagipula, setiap orang akan menemukan kebahagiaannya masing-masing. Berpuas diri adalah kekayaan dan harta yang tiada habisnya. Orang tua saya sering bilang, “Nasi yang kita makan dari hasil kerja sendiri, lebih nikmat daripada pemberian orang lain.” Inilah berpuas diri dan bersyukur. Syukurilah nilai enam atau tujuh hasil ulanganmu. Karena berarti kamu dapat mengetahui sejauh mana kerasnya usahamu dan kemampuan dirimu. Bukan untuk membuat kita jadi rendah diri lalu frustrasi, tapi cerminan diri. Oh, seperti itulah saya, berarti saya tidak boleh bermalas-malasan, saya harus belajar dan berusaha lebih keras lagi.
Buat mereka yang senang dengan jalur ‘potong kompas’, kita katakan jangan bangga dengan keberhasilan kalian, karena kalian sebenarnya adalah para pecundang. Orang-orang yang tidak bisa menerima kenyataan dan kegagalan.

Entry filed under: Artikel. Tags: .

Orang Pesimistis Lebih Cepat Mati Berkacalah Pada Diri Sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Facebook

Calender

Maret 2009
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Clicks

  • Tak ada

Guest

Feeds


%d blogger menyukai ini: